Ridwan Kamil: Pekerjaan Paling Asyik Itu Hobi yang Dibayar

ridwan-kamil

Sobat Teen ada yang hobi corat-coret bikin gambar rumah atau mendisain isi rumah? Hhmm.. kalo iya, bisa jadi Sobat Teen berbakat jadi calon arsitek. Trus, kalo yang ngga jado gambar, masih ada kesempatan ngga nih jadi arsitek? Ssttt.. jangan bilang-bilang yah. Ternyata nih, ngga harus jago gambar loh kalo mau jadi arsitek. Yang lebih penting malah kudu rajin nonton film. Loh? Hehehe.. daripada penasaran, simak aja yuk wawancara Kak Erric Permana sama Om Ridwan Kamil atau biasa dipanggil Om Emil, sang arsitek di Bincang Kita.

Bisa diceritain kenapa bisa jadi arsitek?

Waktu itu saya gak sengaja yah, saya waktu sekolah tidak pernah membayangkan jadi arsitek, tapi suka menggambar iyah. Dulu waktu SMA malah pilihan pertamanya Teknik Kimia, karena yang ngasih tau jurusannya adalah orang Teknik Kimia. Tentunya dia puji-puji jurusannya dan saya termakan rayuannya, tapi Allah menakdirkan saya tidak masuk ke Teknik Kimia, tapi ke pilihan ke dua yakni arsitektur. Pilihan Arsitektur juga bukan karena pilihan tapi karena teman-teman banyak milih Arsitektur, yah daripada gak ada teman yah saya ikut Arsitektur. Jadi motivasinya gak jelas, tapi setelah masuk jadi yang terbaik ajah, memotivasi diri sendiri. Belajar sendiri yang rajin, travelling kemana-mana. Nah itu yang membuat saya aktif. Setelah saya lulus saya ke Amerika sekolah S2 dan kerja di luar negeri 4-6 tahun. Itu juga membuka pintu saya bagaimana membuka pintu kreativitas skala internasional dan bernegosiasi dunia bisnis global. Setelah pulang ke Indonesia membuka kantor yang karyawannya tadinya ada dua sekarang ada 40. Bandung, Jakarta dan Bali.

Asiknya jadi arsitek itu apa sih Mas?

Kan pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar. Sudah kita hobi menggambar, eh ada yang bayar. Saya suka karena jadi Arsitek itu kita melahirkan imajinasi setiap hari. Setiap hari otak kita nalar kita, imajinasi kita di eksplor. Untuk mencari hal baru, jadi gak monoton rutinitasnya justru menarik karena setiap hari melahirkan hal baru kalau kita sendiri mencari supaya menjadi maksimal dan arsitektur adalah seni yang paling kompleks, kalau lukisan kan bisa dilihat, nah kalau arsitek bisa dilihat dari semua sudut dan direalisasikan.

 

Sarjana Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung ini mendapat beasiswa S2 dan berhasil meraih gelar Master of Urban Design dari College of Environmental Design, University of California, Barkeley di Amerika Serikat. Sejak tahun 2004 hingga 2009 Om Emil telah meraih 12 penghargaan di Bidang Desain Arsitektur dalam lingkup Asia.

 

Apakah harus suka menggambar untuk menjadi arsitek?

Pada dasarnya suka menggambar itu sangat membantu, tapi kalau tidak bisa menggambar yah gak jadi masalah. Kuncinya yang penting anda bisa berimajinasi atau tidak. Karena dengan bisa berimajinasi kita bisa dibantu dengan computer dibantu teknologi mewujudkan imajinasinya. Tapi kalau bisa sketsa dengan tangan seperti menggambar komik itu sangat membantu mencari gagasan awal. Tapi jaman sekarang kuncinya punya imajinasi yang tinggi dan dinamis.

Mas kan sudah banyak dapat penghargaan dan go internasional caranya gimana mas ?

Sebenarnya saya tidak merencanakan juga yah. Tapi saran saya kalau mau jadi arsitek, dunia itu sangat luas. Dengan begitu kita bisa lihat Negara lain sudah lebih maju dan futuristic daripada negara kita sendiri.  Dari situ kita bisa termotivasi, kalau arsitek tidak penah jalan-jalan biasanya desainnya gitu-gitu ajah.  Jadi tipsnya melihat dunia di luar dunia kita, seperti baca buku, travelling dan lain-lain.

 

Beberapa contoh proyek yang ditangani Om Emil di antaranya Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, juga district 1 Saigon South Residential Master Plan di Saigon, Shao Xing Waterfront Masterplan (China), Beijing CBD Master plan, dan Guangzhou Science City Master Plan. Tak hanya di negara lain, di Indonesia, tepatnya Jakarta, Om Emil menggarap Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum. Dari luas lahan sebesar 12 hektar tersebut, dibangun Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, retail, dan waterfront.

Buat anak-anak remaja yang masih sekolah nantinya gimana caranya bisa menjadi seperti Mas Emil ini?

Pertama kalau sebagai anak SMA itu yang penting lulus dulu, yang kedua kalau jadi Arsitektur kalau jalan-jalan lihat lingkungannya. Misal lihat rumah keren, museum gallery. Terus sering-sering nonton film apalagi film science fiction karena dunia khayalannya menarik. Yang terakhir bekerja keras ajah, karena arsitek itu bukan bakat tapi bisa dipelajari yang penting masuk dulu terus bisa belajar bersama-sama.

About the author:

teenvoice

. Follow him on Twitter / Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>